Tuesday, August 23, 2016

Jantungku berdegub kencang firasatku semakin jelas, untuk mendekati ajalku. Iyya tidak bisa tidak, genderang perang sudah ditabuh. Beberapa penari lenggak lenggok bak pemandu sorak yang menyemagati kepergian kami menuju kemedan perang. Itulah tarian perpisahan. Aku menatap sayu dari belakang kulihat kaki- kaki penari itu.
Kilat lampu menyilaukan mataku, itulah cara mereka mngabadikan moment bersejarah itu. Ah ,sungguh fikirku masih kacau, badanku kecut bak raga tanpa nyawa. Pandangan kembali kosong. Aku terseret pada ingatanku waktu aku masih kecil, memanggil-manggil ibu saat aku takut, tidak sampai disitu pikiranku melayang pada sosok jelita asya, iyya asya binti zulkarnain namanya, yang dulu sempat aku menaruh hati padanya. Sebuah teriakan membuyarkan lamunanku”Semangat pantang mundur..”.  kulihat isakan anak kecil yang enggan berpisah dari dekapan ayahnya. Ayahnya yang tetep tersenyem walau dalam hatinya dirundung kepedihan berpisah dengan anak dan keluarga yang dicintainya, banyak orang yang menyalami kami dan melambaikan tangan untuk kami, mataku nanar airmataku jatuh ditanah kelahiranku, Di tanah airku. 
Reactions:

0 comments: