Saturday, August 6, 2016

Suara gemuruh menggema  sampai ke sudut-sudut ruangan, lambaian dan tepuk tangan penonton menambah riuhnya malam, peluhku menetes memudarkan lapisan tipis diwajahku seperti taburan debu didedauanan yang tertetesi oleh embun-embun pagi, apakah ini mimpi lagi? Yang biasa aku menuliskannya di secarik kertas setelah aku terjaga, ini kenyataan kawan, dan aku merasa tenang saat beberapa kali tarikan napas panjang.


Nederland sebuah negara yang telah berabad-abad lamanya menjajah indonesia, sebuah negara yang jauh nandisana, tapi entah kenapaaku ingin menuju kesana, ah ada-ada saja kamu soim, Apa kamu tidak berkaca siapa dirimu? Siapa orang tuamu? Kadang aku bimbang dengan anganku yang terlalu jauh, anak seoarang petani tak ada salahnya untuk bermimpi “ bermimpilah setinggi tiingginya maka tuhan akan memeluk mimpimu kata aray dalam buku sang pemimpi”

Aku ingin mencari ilmu, semoga tuhan selalu meridhoi jalanku, ya aku harus mendapatkan beasiswa, untuk setudi disana, nampaknya semangat saja tidak cukup kawan, harus ada aksi yang nyata dan kerja keras adalah jawabannya, aku harus mengarumi bahtera kehidupan,aku harus berani menerjang karang, aku harus tegakkan diriku, berani berdiri berani berdiri menantang matahari. 
Aku ingin tak hanya sekedar hidup

Aku ingin berkontribusi sekecil apapun itu yang aku bisa , salah satunya adalah melalui Ajang pemilihan Bagus Roso Purworejo 2016.

Sinar pagi mulai memancarkan sinarnya muali menyengat pori-pori kulitku yang memang aku inginkan, yang sebelumnya masih membeku. Berkas-berkas pendaftaran sudah tertata rapi didalam tasku , dari lereng menoreh aku turuni jalan berkelok-kelok penuh konsentrasi. Aku menuju kota, menuju kantor dinaspariwisata. Bu kulo pamitbade nderek lomba. Orang tuaku yang yang pernah tau menau tentang Bagus dan Roro Purworejo menjawab yo ngati-ati sik ngaji sik temenang.  Hanya itu yang selalu di katakan sama ibu, itu adalah amanah yang tersa berat olehku. Ya aku harus niat untuk mencari ilmu (ngaji) aku bukan untuk menang atau kalah. Aku berharap dengan mengikuti kegiatan ini dapat mendapatkan ilmu sehingga dapat menerapkannya dan mengembangkan di desaku pikirku.
Selamat pagi mas, tanya seorang petugas. Ini saya pak mau mendaftar? Mendaftar apa?, saut petugas. Mendaftar Bagus Roro pak, oh ya mari-mari mas sajak binggung bapak itu karena aku menjadi pendaftar pertamadan ditanggal pertama pembukaan pendaftaran.

Waktu Seleksipun Tiba
Pada tahap ini 3 orang dewan juri menyeleksi dengan wawancara secara lisan dengan materi penguasaan bahasa inggris, pengetahuan umum dan pengetahuan tentang pariwisata. Alhamdulillah saya masuk ke 15 finalis Bagus Roro Purworejo 2016, seteleah itu adalah sesi pemotretan, besok foto ya seru panitia penyelenggara. Dengan pakean yang sudah ditentukan.
Aku yang biasa-biasa aja
Wah gimana ya, gumanku dalam hati. Aku tak punya baju, celana sama sepatu seperti yang di sarankan oleh panitia. Ya akhirnya otak encerku memunculkan ide brilian, ngak si biasa aja sebenarnya bak golden sunrise dipagi hari, aku meminjam celana punya bapakku, sepatu pun aku meminjam punya leonel sesama temen finalis bagus roro.yeee dapet pinjaman, dunia serasa habis gelap terbitlah terang.

Menikmati Waktu karantina (Ngangsu Kaweruh)
Selama 3 hari ini penilian dilakukan yang memiliki porsi penilaian sebesar 75% banyak aspek yang dinilai disini dan 25% sisanya ditentukan pada waktu Grand Final. Banyak ilmu yang aku dapatkan, yang tidak semua orang dapat medapatkannya, dan tidak pula aku dapatkan dibanggku kuliah. Terlebih mengenai wawasan wisata. Disini tidaakhanya belajar dari materi yang disampaikan, tapi adahal lain yang aku dapatkan. Aku mengamati dan belajar dari mereka, mendapatkan keluarga  baru dan bisa tetap menjaga silaturahmi.
Ini bukanlah kompetisi yang harus menjegal satu samalain tapi ini adalah proses belajar untuk menjadi lebih baik , apa artinya ajang ini jika hanya dilalui tanpa arti , tidak hanya sekedar menghapal materi,takut tidak bisa mejawab ketika ditanya dewan juri? Dalam sebuah kompetisi memang harus ada yang menang tapi aku tidak yakin itu.
Karantinapun telah usai sampai dengan waktu gladi bersih untuk persiapan grand final ,, ya waktu itu tiba.

Grand Final
Tak ada seorangpun yang datang memberikan tepuk tagan, hanya aku dan keyakinanku. Aku tidak tidak mengharapkan juara karena aku bukanlah orang yang pandai, tidak pula cakap diajang ini, tapi mungkin karena satu hal yang ku yakini, kejujuran dari hati nurani. Ini adalah langkah awal kawan, perjuangan belum selesai kawan..
Terimakasih untuk semuanya kawan..

BACA BERITANYA DISINI

Reactions:

0 comments: