Wednesday, May 22, 2013

Karya : Taufiq Ismail dari Tirani dan Benteng, 1993

Tidak ada lagi pilihan
Kita harus berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
berarti hancur

apakah akan kita jual keyakinan kita
dalam pengabdian tanpa harga
akan maukah kita duduk satu meja
dengan para pembunuh tahun yang lalu
dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku!”

Tidak ada lagi pilihan
Kita harus berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu,
Yang di tepi jalan mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahan hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya merdeka
Kita yang tak punya dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan
Kita harus berjalan terus



Karya Ida at DeKalb, DeKalb, June 10, 1999

Kubayangkan butir air mata memenuhi pelupuk matamu
saat kau membacakan baris-baris kasih sayang
kepada buah hatimu
Kusapa, ada beberapa butir air mata menggantung di sukmaku
hendak menyeruak ke dunia menemani keharuanmu

Tak ada yang dapat kuucapkan hari ini
seperti hari kemarin, aku hanya bisa membisu
coba kutulis beberapa kata ungkapan kehormatan
kepadamu yang kini duduk menyaksikan ilham Allah
merasuki tulang-tulang tuamu.

Adakah aku akan melihat orang tuaku
sebahagia lantunan nyanyian hatimu
yang hendak menempuh tahap tertinggi kodrat manusia?
aku merenung menggores bayangan butiran air matamu
yang terdorong keluar oleh kebahagiaan
aku berusaha menutupi jalan untuk air mataku
yang tak sanggup menahan keharuan
menuntut jalan keluar,
mungkin hendak berteman dengan air matamu



Karya: Puisi oleh Chairil Anwar

Tuhanku
dalam termanggu
ku sebut namu Mu
biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

Tuhanku
cahaya Mu panas suci
bagai kerdip lilin
di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
kembara di negeri asing

Tuhanku
dipintuMu ku ketuk
aku tak bisa berpaling.


Karya: Usmar Ismail

Apa hendak dikata
Jika rasa bersimaharajalela
Di dalam batin gelisah saja
Seperti menanti suatu yang hendak tiba
Pastilah harapan berkelap-kelip
Tak hendak padam, hanyalah lemah segala sendi
Bertambah kelesah hati yang gundah
Sangsi, kecewa, meradang resah
Benci, dendam……..rindu, cinta………
Ah, hujan rinai di waktu angin
Bertiup kencang memercik muka
Kemudian reda………tenang……..
di dalam air mata bergenang
kembali harapan, kekuatan semakin nyata
dari yang sudah-sudah,
sebelum jiwa diserang rasa

Karya : Leon Agusta

Kudengar topan menggertak dan angin menerjang
“Apakah belum lagi siap; aku tak akan pernah siap”
Bahkan untuk tidur
Tapi aku tertidur juga
Diayunkan deru cemas
Dinyanyikan jeritan badai
Sampai pagi yang pucat
Membangunkanku
“dalam tidur, mimpi buruk selalu mengejarku”
Pagi hari
Musim tampak memanjang oleh cahaya yang rebah
Dari timur
Dan kabut masih kental mendekap jendela
Kutatap Koran pagi yang terhantar lemas di atas meja
“Cinta kekaksihku lenyap di jalan raya”
“Dendam kekasihku berkeliaran di jalan raya”
Aku cemas sebab aku belum kemas untuk menyempatnya
Di senja penghabisan; di jaringan jalan raya ibu kota
Berdebaran aku menunggu begitu gairah
Mendengar nyanyian dan bisikannya
Walau mimpi buruk selalu mengejar

Karya: Sanusi Pane, 1957

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tiada terlihat orang yang lalu
Akhirnya tumbuh di hati dunia
Daun bersemi, laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
teruslah, o, teratai bahagia
berseri di kebun Indonesia
biarkan sedikit penjaga taman
biarpun engkau tidak terlihat
biarpun engkau tidak diminat
engkau turun menjaga taman

Oleh : Rachmat Djoko Pradopo

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam noda tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita mati datang tidak membelah……..

Karya : Oleh : Abdul Wahid Situmeang

Keringat mengucur darah memancur
Dari dada pahlawan yang gugur
Panji perjuangan pantang mundur
Merebut tampuk hari
Serta menggenggamnya dalam kepalan
Dalam arus waktu yang menghapus kesabaran
Senjata kita adalah keringat
Senjata kita adalah darah
Keringat dan darah dari jiwa yang luhur

SURAT DARI IBU
Karya : Asrul Sani

Pergi ke dunia luas anakku sayang
Pergi ke hidup bebas!
Selama angin masih angin buritan
Dan matahari pagi menyinar daun-daunan
Dalam rimba dan padang hijau
Pergi ke laut lepas anakku sayang
Pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
Dan warna senja belum kemerah-merahan
Menutup pintu waktu lampau
Jika bayang telah pudar
Dan elang laut pulang ke sarang
Angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
Dan nahkoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padaku!
Kembali pulang anakku sayang
Kembali ke balik malam!
Jika kapalmu sudah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”

IBUKU DAHULU
Karya : Amir Hanzah dari Nyanyi Sunyi

Ibuku dahulu marah padaku
Diam dia tiada berkata
Aku pun lalu merajut pilu
Tiada peduli apa terjadi

Matanya terus mengawas aku
Walaupun bibirnya tiada bergerak
Mukanya masam menahan sedan
Hatinya pedih karena lakuku

Terus aku berkesan hati
Menurutkan setan mengacau balau
Jurang celaka terpandang di muka
Kusongsong juga biar cedera

Bangkit ibu dipegangnya aku
Dirangkumnya segera dikulupnya serta
Dahiku berapi pancaran neraka
Sejuk sentosa turun ke kalbu

Demikian engkau
Ibu, bapa, kekasih pula
Berpadu satu dalam dunia
ANTARA TIGA KOTA
Oleh : Emha Ainun Najib dari Sajak-Sajak Sepanjang Jalan

Di yogya aku lelap tidur
Angin disisiku mendengkur
Seluruh kota pun bagai dalam kubur
Pohon-pohon semua mengantuk
Di sini kamu harus belajar berlatih,
tetap hidup sambil mengantuk

kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?

Jakarta menghardik nasibku
Melecut menghantam pundakku
Tiada ruang bagi diamku.
Matahari melototiku
Bising suaranya mencampakkanku,
Jatuh bergelut debu

Kemanakah harus kuhadapkan muka
Agar seimbang antara tidur dan jaga?

Surabaya seperti di tengahnya
Tak tidur seperti kerbau tua
Tak juga membelalakkan mata
Tapi di sana ada kasihku,
Yang hilang kembangnya.
Jika aku mendekatinya
Kemanakah harus kuhadapkan muka
Agar seimbang antara tidur dan jaga?

KARANGAN BUNGA
Oleh : Taufiq Ismail

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu

Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi

YANG KAMI MINTA HANYALAH
Karya : Taufiq Ismail

Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
Penawar musin kemarau dan tangkal bahaya banjir
Tentu bapa sudah melihat gambarnya di koran kota
Tatkala semua orang bersedih sekadarnya

Dari kaki langit ke kaki langit air membusa
Dari tahun ke tahun ia datang melanda
Sejak dari tumit, ke paha lalu lewat kepala
Menyeret semua

Bila air surut tinggallah angin menudungi kami
Di atas langit dan di bawah lumpur di kaki
Kelepak podang di pohon randu

Bila tanggul pecah tinggallah runtuhan lagi
Sawah retak-retak berebahan tangkai padi
Nyanyi katak bertalu-talu

Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
Tidak tugu atau tempat main bola
Air mancur warna-warni

Kirimlah kapur dan semen Insinyur ahli
Lupakan tersianya sedekah berjuta-juta
Yang sampai kepada kami

Bertahun-tahun kita merdeka, bapa
Yang kami minta hanya sebuah bendungan saja
Kabulkanlah kiranya

TERIMA KASIH KEPADA PAGI
Karya : Subagjo Sastrowardojo
Terima kasih kepada pagi
Yang membawa nyawaku
Pulang dari kembara
Di laut mimpi gelombang begitu tinggi
Dan bulan yang berlayar tenggelam di kelam badai
Terenggut dari pantai
Aku berteriak minta matahari

Pagi
Terima kasih

Jejak kaki
Masih tertinggal
Di pasir sepi
PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Dari manakah mereka
Ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta pagi terjaga
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta
Kemanakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
Merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
Siapakah mereka
Mereka ialah ibu-ibu yang perkasa
Akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka: cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

PRIANGAN SI JELITA
Karya : Ramadhan KH dari Priangan si Jelita, 1965

Seruling di pasir ipis,
Merdu antara gundukan pohon pina
Tembang menggema di dua kaki Burangrang – Tangkuban perahu
Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di air tipis menurun

Membelit tangga di tanah merah
Dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali,
Kenakan kebaya merah ke pewayangan

Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di hati gadis menurun

KRAWANG BEKASI
Karya : Chairil Anwar
Dari: Aku ini Binatang Jalang, Koleksi sajak 1942 – 1949

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang-kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan
Arti 4 – 5 ribu nyawa

Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang
Untuk kemerdekaan kemenangan
Dan harapan atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Mengapa Bung Karno
Mengapa Bung Hatta
Mengapa Bung Syahrir

Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjaga terus di garis batas pernyataan
Dan impian

Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang – Bekasi


Reactions:

1 comments:

ferick said...

kenapa puisi di atas bisa disebut terhebat sepanjang masa?